Oleh : Ismajaya
Pemerhati Sosial & Budaya Buol
FAKTAINFODESA – Bahasa daerah merupakan bagian penting dari identitas budaya suatu masyarakat. Namun, di tengah arus modernisasi dan dominasi bahasa nasional, banyak bahasa daerah mulai kehilangan penutur aktifnya. Fenomena ini juga dapat diamati pada penggunaan Bahasa Buol di wilayah Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah. Salah satu faktor yang jarang disorot tetapi memiliki pengaruh besar adalah rasa minder dalam menggunakan bahasa daerah.
Dalam kajian sosiolinguistik, bahasa tidak hanya dipahami sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai simbol status sosial. Bahasa tertentu sering dianggap memiliki prestise lebih tinggi dibandingkan bahasa lainnya. Dalam konteks Indonesia, Bahasa Indonesia dan bahasa asing sering dipersepsikan lebih modern dan bergengsi. Sementara itu, bahasa daerah kerap dianggap kurang relevan dengan mobilitas sosial atau dunia pendidikan.
Persepsi tersebut secara tidak langsung menumbuhkan rasa minder pada sebagian penutur bahasa buol. Generasi muda saat ini, bahkan anak-anak usia TK/Paid dan SD, merasa lebih percaya diri menggunakan Bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari, bahkan ketika mereka berada di lingkungan yang sebenarnya menggunakan bahasa Buol. Akibatnya, penggunaan bahasa Buol semakin terbatas pada situasi informal atau pada generasi yang lebih tua.
Secara linguistik, Bahasa Buol memiliki kekayaan sistem bahasa yang khas. Penelitian kebahasaan menunjukkan bahwa bahasa ini memiliki dua dialek utama, yaitu dialek Buol Pomayagon dan dialek Buol Bokat. Perbedaan leksikal antara keduanya mencapai sekitar 65,3 persen, tetapi masih berada dalam satu sistem bahasa yang sama. Di sisi lain, jika dibandingkan dengan bahasa lain di wilayah Sulawesi Tengah seperti bahasa Dondo atau Totoli, perbedaan leksikalnya mencapai lebih dari 80 persen, yang menunjukkan bahwa bahasa Buol memiliki identitas linguistik yang kuat dan berbeda.
Meski demikian, kekuatan sistem linguistik tersebut tidak menjamin keberlangsungan bahasa jika tidak didukung oleh penutur aktif. Dalam teori sosiolinguistik yang dikemukakan oleh _Joshua Fishman_, keberlangsungan sebuah bahasa sangat bergantung pada transmisi antargenerasi, yaitu proses pewarisan bahasa dari orang tua kepada anak. Ketika orang tua mulai lebih sering menggunakan bahasa nasional daripada bahasa daerah di rumah, proses transmisi ini perlahan terputus.
Fenomena ini dapat dilihat pada sebagian keluarga di Buol yang memilih menggunakan Bahasa Indonesia kepada anak-anak mereka. Niatnya sering kali positif, agar anak lebih mudah mengikuti pendidikan formal. Namun, tanpa disadari, keputusan tersebut mengurangi kesempatan anak untuk menguasai bahasa Buol secara aktif.
Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, maka akan terjadi pergeseran bahasa _(language shift)_, yaitu proses ketika sebuah komunitas secara bertahap meninggalkan bahasa ibunya dan beralih ke bahasa lain yang dianggap lebih bergengsi atau lebih berguna. Dalam jangka panjang, pergeseran ini dapat menyebabkan menurunnya jumlah penutur aktif hingga bahasa tersebut berisiko terancam punah.
Padahal, bahasa bukan sekadar sarana komunikasi. Setiap bahasa menyimpan cara pandang masyarakat terhadap dunia. Kosakata lokal sering kali merekam pengetahuan tradisional, hubungan manusia dengan alam, serta nilai-nilai sosial yang diwariskan turun-temurun.
Jika bahasa Buol semakin jarang digunakan, maka sebagian memori budaya masyarakat Buol juga berpotensi ikut memudar.
Kesadaran akan pentingnya pelestarian bahasa daerah mulai muncul di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memasukkan bahasa daerah ke dalam pendidikan lokal, mendorong penggunaannya dalam kegiatan budaya, serta memanfaatkan media digital untuk memperkenalkan bahasa tersebut kepada generasi muda.
Yang tidak kalah penting adalah mengubah cara pandang masyarakat terhadap bahasa daerah. Bahasa Buol seharusnya tidak dipandang sebagai simbol keterbelakangan, melainkan sebagai bagian dari kekayaan budaya yang patut dibanggakan. Ketika rasa minder digantikan oleh rasa bangga, bahasa daerah tidak hanya akan bertahan, tetapi juga dapat hidup berdampingan dengan bahasa nasional dalam kehidupan masyarakat modern.
Masa depan bahasa Buol tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau penelitian linguistik, tetapi juga oleh sikap para penuturnya sendiri. Jika generasi muda kembali percaya diri menggunakan bahasa daerahnya, maka ancaman kepunahan bahasa Buol mungkin masih dapat dihindari.*** #jy#









