Beranda / Berita Daerah / Kepiting Tapal Kuda di Desa Umu Buol Akan Jadi Ikon Kabupaten, Hanya Ada di Sulawesi Tengah  

Kepiting Tapal Kuda di Desa Umu Buol Akan Jadi Ikon Kabupaten, Hanya Ada di Sulawesi Tengah  

BUOL,FAKTAINFODESA – Kabupaten Buol berencana menjadikan tapal kuda sebagai ikon daerah, mengingat hewan laut ini hanya ditemukan di wilayah tersebut, di seluruh Sulawesi Habitat tapal kuda dengan jumlah tertinggi berada di Desa Umu, Kecamatan Paleleh, Kabupaten Buol.

Pemerintah Kabupaten Buol melalui Dinas Perikanan dan Kelautan berencana akan melakukan presentasi bersama Bupati Buol untuk mewujudkan tujuan ini. Menurut Sekretaris Dinas perikanan dan kelautan, tapal kuda memiliki nilai penting karena distribusinya sangat terbatas – di Indonesia hanya terdapat di beberapa provinsi, dan secara global juga tergolong langka.

Selain keunikan habitatnya, tapal kuda juga memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi, menjadikannya hewan laut yang tidak hanya bermakna secara ekologis tetapi juga bermanfaat bagi pengembangan potensi ekonomi daerah. Dengan menjadikannya ikon, diharapkan dapat meningkatkan kesadaran akan konservasi serta mendorong perkembangan sektor pariwisata dan ekonomi berkelanjutan di Kabupaten Buol.

Selain itu darah biru pada kepiting tapal kuda digunakan juga dalam pengujian keamanan produk medis seperti alat medis, implant, dan vaksin untuk memastikan produk tersebut bebas dari endotoksin. Di Indonesia, darah kepiting tapal kuda bahkan memiliki harga fantastis, mencapai sekitar Rp 200 juta hingga Rp 213 juta per liter, namun pengambilan darahnya dapat menyebabkan 10-30 persen kepiting mati dan menyulitkan betina untuk berkembang biak, yang mengancam populasinya.

Bukan Benar-Benar Kepiting

Dilansir dari Britannica, kepiting tapal kuda termasuk dalam subfilum Chelicerata, seperti hewan laba-laba, kalajengking, dan beberapa jenis arachnida lainnya. Sementara kepiting adalah anggota subfilum crustacea, seperti halnya udang, lobster dan krustasea lainnya. Jadi secara ilmiah kepiting tapal kuda dan kepiting memiliki klasifikasi taksonomi yang berbeda.

Walau demikian keduanya memiliki kesamaan penampilan, mulai dari cangkang keras, dan ekor seperti pedang. Yang uniknya kepiting tapal kuda memiliki alat khusus yang disebut “pedipalps”, yang digunakan dalam perkawinan dan tidak ditemukan pada kepiting jenis lainnya.

Jika kepiting pada umumnya memiliki 2 mata majemuk, kepiting tapal kuda memiliki hingga 10 mata yang tersebar di berbagai bagian tubuhnya, yaitu 2 mata majemuk, beberapa mata sederhana atau ocelli, 2 mata lateral, dan mata ventral.

Sensitif dengan Sinar UV dan Aktif di Malam Hari

Kepiting tapal kuda sangat sensitif dengan sinar UV. Sehingga seluruh aktivitas mereka mulai dari mencari makan, hingga berkomunikasi dengan sesama kepiting tapal kuda dilakukan malam hari.

. Sangat Bermanfaat pada Ekosistem

Dikutip dari Smithsonian’s National Zoo & Conservation Biology Institute, kepiting tapal kuda adalah pemakan detritus, yaitu bahan organik mati seperti daun, alga dan organisme laut lainnya yang jatuh ke dasar laut. Dan kepiting tapal kuda menjadi bagian penting dari rantai makanan pesisir, dan menjadi makanan bagi sejumlah spesies termasuk burung pantai, ikan dan beberapa reptil laut.

Keberadaan di Indonesia

Di Indonesia, kepiting tapal kuda juga dapat ditemukan, dengan tiga jenis yang umum dikenal yaitu Tachypleus gigas, Tachypleus tridentatus, dan Carcinoscorpius rotundicauda. Mereka biasanya hidup di area estuari, pantai berlumpur atau berpasir, serta muara sungai, dan menetap di laut dalam selama musim non-berbiak. Hewan ini telah ditetapkan sebagai satwa dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1999 dan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MenLHK/Setjen/Kum.1/6/2018, karena populasinya termasuk dalam kategori critically endangered atau terancam punah akibat degradasi habitat, reklamasi, pencemaran, dan perburuan komersial.

Beberapa daerah di Indonesia seperti Surabaya (Jawa Timur), Kendal (Jawa Tengah), dan di kabupaten buol yakni di desa umu, kecamatan paleleh dan Di desa Timbulon kecamatan Paleleh barat

telah melaporkan keberadaan kepiting tapal kuda, dengan upaya konservasi seperti penelitian, sosialisasi kepada masyarakat, dan pengawasan habitat sedang dilakukan oleh pihak terkait agar populasinya dapat terjaga.*** ( PINK )

 

 

 

 

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *